Blogger templates

Tampilkan postingan dengan label MPP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MPP. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Januari 2014

PTBK



PENELITIAN TINDAKAN BIMBINGAN DAN KONSELING (PTBK)

A.     Pengertian Tindakan Bimbingan dan Konseling
Secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan penelitian untuk memberikan tindakan yang dilakukan dalam lingkup kegiatan bimbingan dan konseling. Ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut, yaitu: penelitian, tindakan dan bimbingan. Penelitian, menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan, menunjuk pada suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa. Bimbingan, upaya proses pemberian bantuan dari pembimbing kepada siswa dalam rangka menghindari dan memecahkan masalah kehidupannya. Penelitian tindakan bimbingan merupakan pengembangan dari penelitian tindakan kelas (PTK) yang sudah dikenal luas pada kalangan guru mata pelajaran.
Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling dapat juga didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan konselor atau guru BK dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek  bimbingan dan konseling tersebut dilakukan.

B.     Karakteristik Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
Berdasarkan makna penelitian tindakan seperti dipaparkan di atas, dapat dirumuskan karakteristik penelitian tindakan bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1.     Merupakan penelitian kolaborasi peneliti dengan teman sejawat/guru/praktisi pada semua langkah penelitian.
2.     Fokus pada pemecahan masalah praktik bimbingan dan konseling di dalam kelas maupun secara individual.
3.     Partisipatori: melibatkan semua pelaksana program yang akan diperbaiki termasuk subyek penelitian.
4.     Pelaksanaan penelitian melalui spiral refleksi diri (self-reflective), yakni guru pembimbing atau konselor sekolah mengumpulkan data dari praktiknya sendiri melalui refleksi mengingat apa yang dikerjakannya di kelas atau terhadap konseli secara individual, apa dampak tindakan tersebut bagi konseli, mengapa dampaknya seperti itu, apa kekuatan dan kelemahan tindakan seperti itu, kemudian mencoba (tindakan) untuk memperbaiki kelemahan itu.
5.    Bertujuan untuk memperbaiki proses bimbingan dan konseling, dilakukan bertahap dan terus-menerus selama kegiatan penelitian dengan siklus: perencanaan (planning), tindakan pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting), revisi (perencanaan ulang tindakan bimbingan dan konseling).

C.    Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling
Ada beberapa prinsip yang mendasari Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling, yaitu antara lain:
1.     Kegiatan penelitian dilakukan dalam situasi rutin penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah
2.   Dilandasi kesadaran bahwa manusia tidak ada yang sempurna, sehingga perlu selalu memperbaiki diri.
3.     Penelitian dilakukan atas dasar hasil analisis SWOT terhadap pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
4.  Penelitian merupakan upaya pemecahan masalah berdasarkan pengalaman Guru Pembimbing atau Konselor Sekolah dan bersifat sistemik.
5.  Dalam perencanaan penelitian tindakan selalu harus memperhatikan prinsip SMART (Speciffic, Managable, Acceptable, Realistic, Time-bound).

D.    Langkah-langkah Penelitian Bimbingan dan Konseling
Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling ditempuh seperti halnya penelitian tindakan kelas, yakni dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur atau bersilus, yang terdiri atas empat tahap, yaitu:
1.     Perencanaan (planning)
2.     Tindakan (acting)
3.     Pengamatan/pengumpulan data (observing)
4.     Melakukan refleksi (reflecting)
5.     Revisi (perencanaan ulang tindakan bimbingan dan konseling).

Revisi pada dasarnya merencanakan kegiatan siklus berikutnya. Hal ini dilakukan dengan mengacu pada hasil refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan pada siklus terdahulu. Revisi dilakukan jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil memperbaiki praktik atau memecahkan masalah yang menjadi kerisauan guru pembimbing atau konselor sekolah.
Dalam praktiknya, setiap tahap kegiatan pada siklus penelitian tindakan dapat terdiri atas atau didahului oleh beberapa langkah kegiatan. Namun secara operasional, prosedur perencanaan dan pelaksanaan penelitian tindakan ditempuh dengan empat langkah utama, yaitu:
1.     Mengidentifikasi masalah
Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling bertolak dari keresahan yang dirasakan oleh guru pembimbing atau konselor sekolah tentang praktik pelayanan bimbingan dan konseling kepada konseli. Apa yang terjadi ketika guru melaksanakan praktik pelayanan bimbingan dan konseling?, masalah apa yang ditimbulkan oleh kejadian itu?, apa pengaruh masalah tersebut terhadap konseli atau kelas (kelompok konseli)?, apa yang akan terjadi jika masalah tersebut dibiarkan?, apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah atau kejadian tersebut?
Proses identifikasi masalah atau refleksi awal penelitian tindakan difokuskan pada proses pelayanan bimbingan dan konseling sesuai dengan bidang layanannya. Identifikasi dapat difokuskan pada empat pilar layanan bimbingan dan konseling (Ditjen PMPTK Depdiknas, 2007: 40-45), yaitu meliputi program pelayanan dasar, pelayanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem.
2.     Menganalisis dan merumuskan masalah
Masalah yang teridentifikasi selanjutnya dianalisis, sehingga dapat dirumuskan masalah penelitian tindakan bimbingan secara jelas. Agar analisis tepat perlu didukung oleh data atau informasi yang memadai, sehingga guru pembimbing atau konselor sekolah perlu mengkaji ulang berbagai dokumen yang ada. Proses analisis masalah ini sebenarnya masih kelanjutan dari kegiatan refleksi yang lebih difokuskan pada menemukan faktor penyebab dan kemungkinan upaya/tindakan/pelayanan bimbingan dan konseling yang dapat diterapkan untuk mengatasinya.
Berdasarkan hasil analisis masalah tersebut, kemudian dirumuskan masalah penelitian tindakan bimbingan dan konseling dalam bentuk pernyataan atau (seringkali) pertanyaan.
3.     Merencanakan penelitian tindakan
Rencana penelitian tindakan bimbingan dan konseling disebut juga rencana perbaikan pelayanan bimbingan dan konseling. Rencana perbaikan yang akan dilakukan sebaiknya dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan. Hipotesis ini menggambarkan bahwa tindakan (perbaikan) pelayanan bimbingan dan konseling yang dipilih tersebut dapat memperbaiki/mengatasi permasalahan yang dihadapi. Tindakan (perbaikan) yang dipilih dapat berupa strategi, pendekatan, metode atau teknik-teknik dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Cara perbaikan atau tindakan pelayanan bimbingan dan konseling tersebut dikembangkan sesuai dengan konsep teoretis yang mendasarinya, kemampuan dan komitmen guru pembimbing atau konselor sekolah, karakteristik konseli, sarana dan prasarana sebagai media pelayanan yang tersedia, dan nuansa pelayanan bimbingan dankonseling di sekolah tersebut.
4.     Melaksanakan penelitian
Pelaksanaan tindakan (perbaikan) dimulai dengan mempersiapkan rencana pelayanan dan skenario tindakan/pelayanan bimbingan dan konseling, serta menyiapkan kelengkapan pendukung yang dapat mempermudah pelaksanaan, perekaman/pengamatan proses maupun hasil, dan pelaporannya.

Teknik Analisis Data Kualitatif



TEKNIK ANALISIS DATA KUALITATIF
A.     Konsep Dasar Teknik Analisis Data Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data sangat tinggi. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data kualitatif (walaupun tidak menolak data kuantitatif), sehingga teknik analisis data yang digunakan belum ada polanya yang jelas. Oleh karena itu sering mengalami kesulitan dalam melakukan analisis. Nasution dalam Sugiyono (2013) menyatakan bahwa: “Melakukan analisis adalah pekerjaan yang sulit, memerlukan kerja keras. Analisis memerlukan daya kreatif serta kemampuan intelektual yang tinggi. Tidak ada cara tertentu yang dapat diikuti untuk mengadakan analisis, sehingga setiap peneliti harus mencari sendiri metode yang dirasakan cocok dengan sifat penelitiannya. Bahan yang sama bisa diklasifikasikan lain oleh peneliti yang berbeda”.
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis, kemudian dicarikan data lagi secara berulang-ulang sehingga akhirnya dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul. Bila berdasarkan data yang dapat dikumpulkan secara berulang-ulang dengan teknik triangulasi tenyata hipotesis diterima, maka hipotesis tersebut berkembang menjadi teori.

B.     Prosedur Analisis Data Kualitatif
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan di lapangan. Dalam hal ini Nasution mengatakan “analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pegangan bagi peneliti selanjutnya sampai jika mungkin, teori yang grounded”. Namun dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses dilapangan bersamaan degan pengumpulan data. Dalam kenyataannya, analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan data daripada setelah selesai pengumpulan data.

1.     Analisis Sebelum di Lapangan
Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum peneliti memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan atau data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Namun demikian fokus penelitian ini masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan.

2.     Analisis Selama di lapangan Model Miles dan Huberman
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu dimana dirasa telah memperoleh data yang dianggap kredibel. Miles and Huberman mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.
a.     Data Reduction (Reduksi Data)
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, sehingga perlu dicatat secara teliti dan rinci. Makin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan makin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting untuk dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan peralatan elektronik seperti computer mini dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu.
Dalam mereduksi data, setiap peneliti akan dipandu oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama dari penelitian kualitatif adalah pada temuan. Oleh karena itu, kalau peneliti dalam melakukan penelitian menemukan segala sesuatu yang dipandang asing, tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus dijadikan perhatian peneliti dalam melakukan reduksi data. Reduksi data merupakan proses berfikir sensitif yang memerlukan kecerdasan, keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi. Bagi peneliti yang masih baru, dalam melakukan reduksi data dapat mendiskusikan pada teman atau orang lain yang dipandang ahli. Melalui diskusi itu, maka wawasan peneliti akan berkembang sehingga dapat mereduksi data-data yang memiliki nilai temuan dan pengembangan teori yang signifikan.
b.     Data Display (Penyajian Data)
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.
Dalam prakteknya tidak semudah ilustrasi yang diberikan karena fenomena sosial bersifat kompleks dan dinamis sehingga apa yang ditemukan pada saat memasuki lapangan dan setelah berlangsung cukup lama di lapangan akan mengalami perkembangan data. Maka dari itu peneliti harus selalu menguji apa yang telah ditemukan pada saat memasuki lapangan yang masih bersifat hipotetik tadi berkembang atau tidak. Apabila sudah lama memasuki lapangan ternyata hipotesis yang dirumuskan selalu didukung oleh data pada saat dikumpulkan di lapangan, maka hipotesis tersebut terbukti dan akan berkembang menjadi teori yang grounded. Teori grounded adalah teori yang ditemukan secara induktif, berdasarkan data-data yang ditemukan di lapangan dan selanjutnya diuji melalui pengumpulan data yang terus-menerus.
Bila pola-pola yang ditemukan telah didukung oleh data selama penelitian, maka pola tersebut sudah menjadi pola yang baku dan tidak lagi berubah. Pola tersebut selanjutnya didisplaykan pada laporkan akhir penelitian.
c.      Conclusion Drawing /Verification
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan.

3.     Analisis Data Selama di Lapangan Model Spradley
Spradley dalam Sugiyono (2012) membagi analisis data dalam penelitian kualitatif dalam beberapa tahapan, yaitu :
a.    Memilih situasi sosial (Place, Actor, Activity)
b.    Melaksanakan observasi partisipan
c.    Mencatat hasil observasi dan wawancara
d.    Melakukan observasi deskriptif
e.    Melakukan analisis domain
f.     Melakukan observasi terfokus
g.    Melaksanakan analisis taksonomi
h.    Melakukan observasi terseleksi
i.      Melakukan analisis komponensial
j.      Melakukan analisis tema
k.    Temuan budaya
l.      Menulis laporan kualitatif
Proses penelitian kualitatif setelah memasuki lapangan, dimulai dengan menetapkan seseorang informan kunci “key informant” yang merupakan informan berwibawa dan dipercaya mampu “membukakan pintu” kepada peneliti untuk memasuki obyek penelitian. Setelah itu peneliti melakukan wawancara kepada informan tersebut, dan mencatat hasil wawancara. Selanjutnya perhatian peneliti pada obyek penelitian dan mulai mengajukan pertanyaan deskriptif, Dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil wawancara. Berdasarkan hasil dari wawancara selanjutnya peneliti melakukan analisis domain. Pada langkah ketujuh peneliti sudah menentukan fokus dan melakukan analisis taksonomi. Berdasarkan hasil analisis taksonomi, peneliti mengajukan pertanyaan kontras, yang dilanjutkan dengan analisis komponensial. Hasil dari analisis komponensial, kemudian peneliti menemukan tema-tema budaya. Berdasarkan temuan tersebut, pada akhirnya peneliti menuliskan laporan penelitian etnografi.
Jadi proses penelitian berangkat dari yang luas kemudian memfokus, dan meluas lagi. Terdapat tahapan analisis data yang dilakukan dalam penelitian kualitatif, yaitu analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema kultural.
a.     Analisis Domain
Memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh dari obyek/ penelitian atau situasi sosial. Ditemukan berbagai domain atau kategori. Diperoleh dengan pertanyaan grand dan minitour. Peneliti menetapkan domain tertentu sebagai pijakan untuk penelitian selanjutnya.

b.     Analisis Taksonomi
Analisis taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan. Dengan demikian domain yang telah ditetapkan menjadi cover term oleh peneliti dapat diurai secara lebih rinci dan mendalam melalui analisis taksonomi. Hasil analisis taksonomi dapat disajikan dalam bentuk diagram kotak (box diagram), diagram bari dan simpul (lines and node diagram) dan out line.

c.      Analisis Komponensial
Mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengkontraskan antar elemen. Dilakukan melalui observasi atau wawancara terseleksi dengan pertanyaan yang mengkontraskan.

d.     Analisis tema kultural
Mencari hubungan di antara domain, bagaimana hubungan dengan keseluruhan, dan selanjutnya dinyatakan ke dalam tema/ judul penelitian. Dalam penelitian kualitatif yang baik, justru judul laporan laporan tidak sama dengan judul dalam proposal. Dengan menemukan judul baru dalam laporan penelitian berarti peneliti telah melakukan analisis tema, dan temanya diwujudkan dalam judul penelitian.
















DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Saifuddin. 2007. Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Herdiansyah, haris. 2010. Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu sosial.
Jakarta: Salemba Humanika
Moleong , 2009, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja RusdaKarya
Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More